Sinar Rembulan Palsu

Naskah Drama Pendek

SINAR REMBULAN PALSU

Karya : Aisha Fabella


Prolog:

Terpaan angin berkabut hitam menyelimuti dalam kegelapan. Menyusup ke celah hati yang berlubang. Melebur, membaur, mengalir dalam nadi . Menunggu partikel hasrat jiwa yang melayang. Mencoba mengikat dengan nafsu dan bayang-bayang.Menahan perihnya luka yang tak hanya dirasa oleh raga. Sakit dan perih telah menyatu dalam jiwa.


Babak 1

(Kakak Laki-laki dengan diawasi oleh Penjilat dan Penyebar Fitnah, dia disiksa dengan sangat)

Kakak Laki-laki:

"Tidak kah kau akan durhaka padaku, adik. Siang dan malam aku menanti, namun jiwaku terasa mati. Dalam ragaku yang mungkin masih bernyawa."

(Kakak Perempuan tak kuasa melihat kekejaman seorang adik kepada kakaknya sendiri. Keserakahan seakan mengalahkan persaudaraan)

Kakak Perempuan:

(Berteriak, namun dihiraukan) "Bunga yang dulu mekar, kini telah layu. Kelembutan dan kebaikan telah berubah menjadi keserakahan atas harta, tahta, dan dunia semata." (Kemudian dia menangis)

(Kakak Perempuan diseret oleh Penjilat dan Penyebar Fitnah, didorong dan terjatuh di dekat Kakak Laki-laki)

(Datang sosok perempuan tak berperasaan, terlihat dari mata dan wajahnya sebagai lambang kegelapan)

Perempuan Serakah:

(Berjalan dengan sombong) "Tidak akan ada bintang tetap bersinar terang. Cahaya telah tertutup, semua telah hancur. Tak kan kembali seperti semula. Hahahaaaa." (Duduk di kursi dan menikmati minuman hangat)


Babak 2

(Datanglah Pengemis dan Perempuan Jalanan hendak menolong Kakak Laki-laki)

Pengemis:

"Manusia ini tak lagi berpikir tentang kemanusiaan. Hati nurani nya telah tertutup debu. Diantara hawa setan yang menggebu, mengajaknya dalam kesesatan."

Perempuan Jalanan:

(Berjalan perlahan kearah Kakak Laki-laki) "Cukup! Cukup sudah! Lentera hati kan dihidupkan kembali. Dengan di bumbui cinta bisa musnahkan duka." (Dia didorong oleh Penyebar Fitnah)

(Lalu Perempuan Serakah berdiri dan menuju ke arah Perempuan Jalanan)

Perempuan Serakah:

"Apakah cinta bisa mengalahkanku ? (Menatap tajam Perempuan Jalanan) Semua mata boleh tertuju pada bintang, namun tak merubah keadaan."

Penjilat:

"Benar nona, mereka hanya manusia yang hidup dari belas kasihan mu. Atau bahkan mereka tak layak disebut sebagai manusia."

Pengemis:

(Menghampiri Perempuan Serakah dan Perempuan Jalanan) "Ingatlah! Akan datang pertolongan Tuhan, mengubah takdir yang tak semestinya."

Perempuan Serakah:

"Diam bodoh! Dasar wanita tak tau diri."

(Kakak Laki-laki terus disiksa oleh Penjilat dan Penyebar Fitnah, Kakak Perempuan juga ditampar dan di dorong hingga jatuh)

Perempuan Serakah:

(Menjambak dan menendang Kakak Laki-laki) "Bagaimana kakak? Kau sudah puas?"  (Dengan nada bangga)

Kakak Perempuan:

"Kau! Adik durhaka, wanita berhati iblis." (menunjuk ke arah Perempuan Serakah)

Perempuan Serakah:

(Menatap Kakak Perempuan) "Manusia lemah, tetaplah terdiam pasrah"


Babak 3

Perempuan Jalanan:

(Berdiri dan berjalan perlahan) "Aku tak bisa tinggal diam melihat angkara di depan mataku, harus segera dihapuskan."

Penyebar Fitnah:

(Menunjuk Perempuan Jalanan) "Mengapa kau terus ikut campur gadis bodoh! Tau apa kau tentang angkara? Sedangkan kau tak ubahnya tumpukan sampah yang menjijikan."

Perempuan Jalanan:

"Kau akan hancur, perempuan biadab"

Perempuan Serakah:

"Persetan dengan itu. Yang kuatlah yang akan menang. (menunjuk Perempuan Jalanan) Dan kau! Serupa keledai bodoh yang tak berguna"

Kakak Perempuan:

"Takkan kubiarkan badai terus berguncang"

Perempuan Serakah:

"Kau takkan dapatkan yang kau inginkan. Jangan berharap rembulan bersinar, karena telah aku telan cahaya itu dengan kekuasaan."


Babak 4

Kakak Laki-laki:

(Menuju ke arah Perempuan Serakah) "Tak bisa kah kita bangun perdamaian? Agar lenyap hati iblis dan jiwa setan yang bersemayam dalam ragamu."

Penjilat:

"Perdamaian seperti apa yang kau inginkan? Seperti ini..." (sambil menendang Kakak Laki-laki)

Perempuan Serakah:

"Tidak ada yang akan mendamaikan, semua akan berakhir dengan kemenanganku."

Penyebar Fitnah:

"Iya nona, kemenanganmu telah di depan mata. Dan mereka (menunjuk Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan) akan tak punya kuasa untuk lanjutkan hidup layaknya manusia, mereka tak ubah nya tikus got yang hidup dalam kehinaan."

Perempuan Jalanan:

"Hentikan biadab!" (Menunjuk Perempuan Serakah)

(Perempuan Serakah mengambil senjata dan mengarahkanya ke Perempuan Jalanan hingga tumbang)

Perempuan Serakah:

"Dasar iblis terkutuk!"


Babak 5

Kakak Laki-laki:

(Beranjak dari ikatanya) "Adiku sayang, ayolah kita mulai kehidupan baru yang tentram dengan cinta kasih. Hapuskan keserakahan dalam dirimu."

Perempuan Serakah:

" Apa? Kehidupan baru? Aku tidak sudi." (memalingkan wajah)

Pengemis:

"Itulah yang tak pernah kau rasakan Perempuan Serakah, kedamaian cinta. Hanya nafsumu yang mengarahkanmu ke lembah kehancuran."

Penjilat:

"Diam kau pengemis! Kau berkata karna kau tak pernah dapatkan bahagiamu. Kau hanya perempuan buruk rupa yang berbingkai kenistaan."

Pengemis:

"Diam bajingan!"

Penyebar Fitnah:

"Kekuasaanlah yang mengalahkan semua rasa. Dan kau (menunjuk pengemis) janganlah sok tau tentang hidup."

Perempuan Serakah:

(Mendekati pengemis) "Apa kau bosan hidup? Apa kau ingin terbujur kaku seperti perempuan hina itu?" (menunjuk Perempuan Jalanan lalu Meninggalkan pengemis menuju Kakak Laki-laki)


Babak 6

Kakak Laki-laki:

(Menatap pasrah) "Aku sudah hancur, dan kau yang telah membuat batinku compang-camping. Apalagi yang kau inginkan? Tak puaskah dengan yang kau lakukan selama ini?"

(Kakak Perempuan hanya menangis ketakutan di pojok ruangan. Sementara pengemis yang ingin menolong dihalangi oleh Penjilat dan Penyebar Fitnah)

Perempuan Serakah:

"Baiklah, akan segera kuakhiri kesulitanmu. Akan kuantar kau dalam kedamaian. Kau! Akan terbebas dari rasa sakit yang kau rasakan kini."

Kakak Perempuan:

(Menjerit) "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?"

Perempuan Serakah:

"Apa kau bilang? Gila? Dasar tak tau malu!"

(Perempuan Serakah mengarahkan senjata kearah Kakak Laki-laki. Namun sebelum peluru di tembakkan, Perempuan Serakah sontak kaget dan jatuh perlahan)

(Penyebar Fitnah tiba tiba lari hingga terjatuh. Dan Penjilat juga lari namun terbentur oleh tembok dan tumbang)

Pengemis:

(Berlari membebaskan Kakak Laki-laki dari ikatanya) "Suasana hitam telah reda, badai telah berlalu. Kini kehidupan baru yang kan berjalan dengan damai."

Kakak Perempuan:

(Menangis disamping mayat Perempuan Serakah) "Tuhan. Aku telah membunuh adikku sendiri. Aku pembunuh. Aku pembunuh."

Kakak Laki-laki:

(Menghampiri Kakak Perempuan dengan terseok-seok) "Sudah adik, inilah yang dinamakan takdir. Tak adil memang, tapi itulah yang terbaik."

(Kakak Laki-laki, Kakak Perempuan, dan Pengemis bangkit dan berpegangan tangan)

Kakak Perempuan: 

"Mari kita mulai hidup kita yang baru, tanpa keserakahan."


Epilog :

Jangan memelihara kabut hitam dalam keserakahan berbingkai keegoisan. Setiap hati yang suci akan berakhir damai. Sinar rembulan mungkin datang dalam diam. Namun itu tak cukup untuk lenyapkan jiwa iblis yang menyatu dalam raga anak manusia. Perlu pilihan dan tekad kuat tuk lenyapkan iblis itu, walaupun cinta taruhanya. 



Comments

Popular Posts