Ketika Kita Tak Lagi Sama

Aku mencintaimu di sepanjang malam.

Maka biarkan ku simpan hingga pagi menjelang walau rembulan enggan datang.

Aku titipkan rindu lewat tetesan embun di bunga mawar depan rumahmu agar saat kau membuka jendela, aroma itu bisa menetralkan hati yang berbalut emosi.

Tapi salam rindu itu tak mampu membawamu padaku seperti pada awal peraduan.

Semua tak berjalan seperti yang ku minta.

Hatimu terlalu beku untuk ku cairkan, terlalu dalam untuk ku selami, tak bisa ku kendalikan.

Untuk apa bertahan jika hal sederhanapun menimbulkan pertengkaran.

Kamu beranjak pergi dari kita, dan aku memeluk kehilangan.


Perlahan kamu bungkam.

Pagi dan malam dirundung perdebatan.

Menyimpan gengsi hingga saling menyakiti.

Kita saling meneteskan air mata yang mengendap jadi lara.

Berpisah mungkin tepat untuk melawan gundah, tapi apakah kisah kita akan berakhir begitu saja setelah ribuan lembar ceritaku dipenuhi oleh senyumanmu?

Ah, memang terlalu naif bila mengukur rasa dengan waktu.


Aku tak paham kenapa kita yang mulanya berlari di satu jalan semakin menjauh di persimpangan sedangkan arah yang kita ingin tuju tak bisa berdampingan.

Semakin ku coba mendekat, semakin terpental jauh.

Aku telah memohon pada hatimu untuk tetap bersamaku, namun kita telah retak hingga setiap bekas terihat jelas.

Hubungan seharusnya dipenuhi percaya, tapi kepercayaamu padaku telah dihempaskan setan alas yang memang ingin kita tak lagi bisa bertahan.

Dan kini, kau bukan lagi hati yang selama ini ku kenal, kasihmu sudah terbang ke awang-awang.

Sedang diriku tak punya sayap untuk terbang mengejar sebuah batas kepemilikan.


amz:019

Comments

Popular Posts