Ketika Sudah Menjadi Bagian dari Himpunan

Saya adalah salah satu kader dari organisasi mahasiswa tertua yang masih ada bernama Himpunan Mahasiswa Islam. Tentu keadaan ini bukan secara tiba-tiba dan melalui proses yang mudah. Bahkan sampai sekarangpun saya masih suka merenung, kok bisa ya saya berada pada sebuah himpunan yang saya sebut rumah.

Pertama kali saya menginjakan kaki di Kota Malang untuk kuliah, tidak sedikitpun terlintas di pikiran saya untuk bergabung dengan organisasi ekstra kampus. Karena saya memiliki pandangan buruk terhadap beberapa oknum salah satu organisasi ekstra yang sudah saya kenal sebelumnya sehingga saya enggan untuk masuk menjadi bagian dari keburukan itu. Bahkan ketika awal menjadi mahasiswa, saya tidak suka dengan bahasan beberapa orang mengenai organisasi ekstra khususnya HMI. Saya merasa tidak mau tau dan tidak peduli dengan itu. Saya terbawa oleh stereotip pribadi untuk tidak menyukai sesuatu secara general padahal saya sendiri sadar bahwa setiap wadah pasti memiliki kecacatannya sendiri.

Perlahan, saya menyadari sendiri bahwa tidak seharusnya saya membenci hal yang abu-abu. Terlebih lagi ketika saya kenal dengan beberapa kader organisasi ekstra yang bukan hanya HMI sehingga saya sedikit banyak mengerti tujuan dan proses perkaderan organisasi-organisasi itu. Sejak saat itu saya mulai membaca beberapa literasi tentang organisasi ekstra dan menemukan satu ketertarikan dengan Nilai Dasar Perjuangan atau NDP HMI. Sejak saat itu, saya semakin penasaran dan mencari tau lebih banyak tentang HMI. Hal ini dipermudah dengan banyak kenalan saya yang juga menjadi kader HMI sehingga kita bisa saling bertukar pandangan terkait berbagai hal.

Sering ngopi untuk perbincangan santai hingga serius membuat saya nyaman dan menemukan sedikit banyak hal yang saya cari, yaitu rasa saling peduli selayaknya keluarga. Namun hal itu tidak serta merta membuat saya langsung masuk HMI dan masih asik dengan dunia saya sendiri sebagai mahasiswa baru yang mencoba banyak hal baru.

Saya mengikuti Basic Training atau Latihan Kader 1 pada tanggal 7-9 Februari 2020. Mulai menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam dan bertemu lebih banyak orang baru dengan satu tujuan bersama yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Saya ingat, pertama kali menghafal tujuan itu sebagai syarat diperbolehkannya keluar forum untuk ke belakang. Meskipun saya memiliki niat, bukan berarti antusias dan mengikuti forum secara penuh. Hari keberangkatan ke tempat forum yang seharusnya siang, saya malah datang setelah magrib bersama salah satu peserta yang notabene kakak tingkat saya dan beberapa panitia lain. Pada hari kedua forum yaitu hari sabtu, saya izin untuk kembali ke Malang Kota dengan alasan ada TDI padahal saya tidur di kos mulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Setelah itu, saya mencoba aktif dan mencari apa yang ingin saya dapatkan di himpunan. Tapi itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba seluruh kegiatan dialihkan menjadi daring sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Sejak itu pula kegiatan di komisariat menjadi terhambat dan intensitas diskusipun menjadi berkurang cukup drastis. Sampai akhirnya pada awal November 2020, saya diajak untuk bergabung di salah satu project dan saya baru tau kalau tim project itu adalah kader-kader HMI. Momentum itu yang membuat saya kembali lagi dekat dan mengenal lebih banyak kader yang lebih dulu berproses. Saya jadi semakin tau kondisi dan dinamika dalam himpunan.

Mengetahui dinamika himpunan membuat saya semakin penasaran untuk tau lebih jauh lagi. Saya merasa memiliki beban moral sebagai kader HMI untuk berusaha memperbaiki apa yang salah atau paling tidak bisa memberikan kontribusi untuk himpunan yang saya anggap sebagai rumah. Saya mulai mencari sebanyak mungkin relasi yang bukan hanya dari kader HMI, tapi semua orang yang bisa diajak diskusi dan berbagi sudut pandang atau sekedar saling menceritakan buku yang baru saja dibaca. Dari orang-orang itu saya memahami bahwa himpunan ini sudah tua. Ibarat sebuah pohon, sudah banyak ranting yang bercabang, meskipun melimpah buah segarnya tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada buah yang busuk di pohon ini. Sekali lagi saya menyadari bahwa dinamika itu selalu ada pada setiap sisi kehidupan dan merupakan hal yang wajar terjadi.

Kenyataan itu tidak lantas membuat saya menghilang dan mencari rumah baru. Di pertengahan tahun, saya mengirimkan jurnal pendaftaran Intermediate Training atau Latihan Kader 2 yang diselenggarakan di Cabang Malang sendiri dan berhasil lolos. Akhir bulan Oktober sampai awal November selama dua minggu mengikuti screening dan forum LK 2 membuat saya semakin merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan perkaderan dan secara tidak langsung menuntut saya untuk berkontribusi dalam himpunan. Saya bertemu banyak orang-orang hebat dalam satu forum dan membuat saya semakin termotivasi untuk memperdalam keilmuan serta tekad untuk tetap menempa diri dalam himpunan. Namun saya merasa, yang saya lakukan bukan serta merta untuk menghidupi himpunan, tapi untuk kepentingan saya sendiri. Kepentingan untuk menunjukan kualitas berupa komitmen dan tanggung jawab, kepentingan untuk menyelesaikan apa yang saya mulai, dan kepentingan untuk mengolah rasa bersama gelombang-gelombang yang ada dalam himpunan. 

Setelah pulang LK 2, saya semakin diterpa banyak permasalahan himpunan dan membuat saya lelah. Salah satu hal yang saya ingat adalah ketika saya menyerah, saya akan kehilangan semua yang saya bangun dan saya perjuangkan sebelumnya. Ketika saya memilih mengakhiri perkaderan saya sebelum saatnya, saya akan menyesal telah membuat nama Aisha Fabella menjadi gagal menjadi kader di rumah yang dipilihnya sendiri. Banyak yang sudah datang dan pergi, saya mencoba selalu meyakinkan diri bahwa memang begitulah siklus interaksi. Dan dalam berhimpun, saya mendapatkan banyak pembelajaran tentang hubungan bahkan kehidupan. Beberapa saat setelah itu, saya didelegasikan menjadi peserta Konfercab utusan dari komisariat. Hal ini juga membuat saya menyerahkan waktu, tenaga, dan pikiran meskipun hanya sebagai peserta. Tapi saya bangga karena tidak semua kader HMI berada di posisi saya waktu itu, apalagi Cabang Malang adalah cabang yang sangat besar dengan 58 komisariat. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan membuatnya sebagai lahan mencari ilmu, pengalaman, dan relasi.

Pertengahan November 2021 saya mengikuti Latihan Khusus Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI) secara tidak sengaja. Saya juga tidak mengikuti forum itu secara keseluruhan, tapi saya mendapatkan banyak hal dan yang paling saya rasakan dampaknya sampai hari ini adalah keluarga. Saya mendapatkan keluarga baru. Salah satu hal yang saya suka dari HMI adalah adanya Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) yang memberikan wadah bagi kader HMI sesuai dengan bakat dan minatnya, seperti saya yang memiliki minat di bidang seni dan bisa menjadi bagian dari LSMI Cabang Malang. Hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya juga datang dari himpunan ini, dimana saya menemukan seseorang yang membuat saya tidak hanya jatuh hati, namun juga menaruh kepercayaan untuk menjaga hati itu sendiri. Setelah sebelumnya saya bersumpah bahwa tidak akan berhubungan romantis dengan orang yang bisa merusak perkaderan diantara kami. 

Sampai hari ini, 5 Februari 2022 dimana Himpunan Mahasiswa Islam tempat saya berproses telah berusia 75 tahun. Usia yang sangat tua dengan segala guncangan dari dalam maupun dari luar himpunan. Kalau boleh jujur, ada banyak hal yang bisa menjadi alasan untuk saya meninggalkan himpunan ini. Ada titik luka dan air mata yang timbul karena berhimpun disini. Tapi saya juga memiliki alasan untuk bertahan dan menyelesaikan, karena HMI adalah rumah yang membuat saya tetap berjalan dan melanjutkan hidup dengan penuh kepercayaan. Sampai hari ini, saya tidak mengharapkan semua orang akan menilai dan memperlakukan HMI seperti apa yang saya lakukan karena tidak semua orang merasakan apa yang saya rasakan. Tapi satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam adalah tempat yang membuat saya tidak merasa hidup sendirian.


amz:019

Comments

Popular Posts