Aku Tidak Tau Harus Menamainya Apa

Aku dan kamu adalah kesalahan yang berujung pada penyesalan.

Menyesal karena tak bisa lagi ada disampingmu.

Menyesal karena tak mampu berbuat apa-apa untuk kita.

Tapi aku tetap bahagia bisa mengenalmu dan memberikan rasaku.

Aku tidak menyesal untuk pertemuan yang berakhir dengan kepergian.

Pergi yang bukan untuk berpisah dan melupakan, juga bukan untuk kembali pada hatimu.

Sejak hari itu, kamu membuat tubuhku gemetar, merasakan sensasi yang berbeda dari biasanya.

Kamu telah membuka kembali sebuah perasaan yang dengan susah payah aku pendam.

Kamu membuatku menghentikan sementara waktuku untuk tidak menaruh rasa pada jiwa baru.

Kamu dengan sengaja mengambil hatiku dan bahkan akupun tak bisa menghentikanmu.

Dan kamu mengingatkan akan kenyataan bahwa hadirmu di hatiku lebih menyakitkan daripada kehilangan.

Aku sudah mencoba membuatmu merasa jengah dengan menunjukan sikap burukku.

Tapi tetap saja kamu memaklumi itu, atau mungkin terpaksa membuatnya wajar karna kamu membutuhkan aku.

Atau sebenarnya kamu muak dan ingin membentak, tapi tidak bisa melakukannya dengan dalih menghargai.

Maaf, aku tidak bermaksud berpikir negatif tentangmu, aku hanya menebak semua kemungkinan yang ada.

Aku membuatmu masuk dalam duniaku dan kamu terlihat tidak keberatan untuk ikut ke dalamnya.

Pernah kamu katakan bahwa aku cintamu, walau mungkin itu hanya candaan.

Dan seluruh ragaku seketika terdiam tanpa bisa mengatakan bahwa cintamu tidak pada tempat yang seharusnya.

Aku tidak tau angin apa yang berhembus saat itu hingga aku terbawa perasaan untuk menerima cinta semu.

Siang dan malam telah ku lewati dengan bimbang.

Pikiran dan perasaanku beradu tentang kesadaran atau keegoisan.

Kenyataan tak mengindahkan pengharapan untuk menjadikanmu milikku.

Karna kita berbeda dan tak akan mungkin pernah bersatu.

Walau aku menginginkanmu dan mungkin kamu juga.

Tapi sebenarnya aku tidak mengerti pasti, apa kamu juga menyimpan sayang, atau aku hanya merasakan itu sendirian.

Aku juga tidak tau mengapa kamu membuatku nyaman dipelukanmu.

Aku hanya menerka, apa kamu hanya ingin melupakan bosan atau menjadikanku sebagai pelampiasan.

Mungkin aku yang terlalu perasa karna menganggap perhatianmu lebih dari teman.

Walau aku tau bahwa kamu sudah punya rumah sebagai tempatmu kembali dari perjalanan.

Aku pernah membayangkan bagaimana jika kamu pindah ke rumah baru, yaitu aku.

Tapi naif dan terlalu gila bahkan hanya untuk memikirkan bayangan itu.

Kadang, aku ingin membentak waktu yang membuatku merasakan sayang.

Yang telah mengukirkan wajahmu di dinding hatiku dengan begitu rapi.

Ahh, aku tak bisa menyalahkan takdir karna telah mempertemukan kita.

Aku masih akan berusaha mengganggap ini baik-baik saja.

Mungkin ini salahku, yang tidak tau diri karna terus memikirkanmu.

Tapi aku tak ingin menyalahkan hatiku, aku tak mau membuatnya semakin retak.

Mungkinkah kamu juga merasakan luka yang sama?

Dari sikapmu, menunjukan bahwa hatimu juga patah dengan kepergianku.

Dan sekali lagi aku tidak tau, itu benar atau hanya ilusiku.

Lalu, bagaimana jika aku menyalahkanmu karna telah mengundang rasa?

Bagaimana jika aku membencimu, karna memang banyak hal yang bisa membuat benci.

Namun aku punya alasan untuk tidak bisa melakukannya, yaitu aku menyayangimu.

Tanpa alasan yang bisa dijelaskan.


amz:019

Comments

Popular Posts