Dua yang Berbeda
Waktu terus berjalan, diiringi jam dinding usang yang belum berhenti berdetak. Biarlah kisah kita menjadi kenangan. Kisah yang sengaja berakhir karena kita tak mampu menyatukan perbedaan. Kisah yang di dalamnya menyimpan kepingan luka yang tak mudah disembuhkan. Kita berbeda, ya, memang beda. Dan aku tau, itulah alasan mengapa kita tidak bisa bertahan.
Hai tuan, melalui catatan ini aku mengakui rasa yang tak kunjung padam. Walaupun aku memilih jalanku untuk meninggalkanmu, dan kamu beranjak pergi jauh dari pandangku. Aku masih sangat berharap bisa memilikimu lagi. Sejak kamu nyatakan cinta, dan sampai sekarangpun aku masih mengingatnya. Aku menyayangimu dengan segala upaya yang bisa aku lakukan. Aku mencintaimu dengan keikhlasan agar kelak bisa dipersatukan kembali, oleh takdir yang berpihak pada kita berdua.
Ahh, takdir? Hmm, bukan. Itu bukan takdir, namun keputusan kita yang tidak bisa berpaling dari keyakinan. Itulah perbedaan kita, yang membuat kita terluka, membuatku kehilangan hati yang selalu membuatku merasakan damai.
Apa kamu tau? Sebuah kalimat yang menggetarkanku, kalimat yang pernah aku ucapkan dengan air mataku menetes saat menatap matamu? Aku yakin, ingatanmu tak selemah itu hingga kamu lupa. “Maaf, kita tidak bisa melanjutkan cerita ini bersama” dan bahkan menuliskan kalimat itupun membuat mataku berkaca kaca dan hatiku tak tenang. Di setiap senja menampakan wajah rupawan, kerap kali aku membayangkan indah senyummu yang menawan. Membayangkan hangat tawamu seakan dunia adalah kegembiraan.
Perbedaan itu masih bisa membuat kita berjalan beriringan, tertawa beriringan, namun tetap saja tidak akan bersatu. Maafkan aku yang telah mengakhiri kisah kita setelah sekian lama bersama. Aku sadar, persatuan atas nama cinta bukan lagi milik kita. Walaupun namamu masih terukir indah di taman hati yang belum pernah disinggahi, selain hatimu. Meski sekarang kita terpisah bukan hanya karna jarak, aku masih tetap berharap kamu kita bisa bersatu. Aku masih berharap kita bisa melanjutkan kisah cinta yang pernah usai. Maaf aku seegois ini, tapi aku sangat berharap kamu akan menyakini apa yang aku yakini dan kita bisa melukis cerita kita dengan warna-warna cinta.
Maaf tuan, jika aku masih mencintaimu. Maaf, aku masih menggunakan namamu untuk
kubicarakan kepada Rabbku di jantung malam. Apakah masih ada diriku dalam
benahmu? Atau aku hanya merasakanya sendirian?
amz:019
Walau beda, setidaknya kedua orang itu pernah menyimpan rasa dan saling mengerti keadaan yang tidak bisa menyatukan
ReplyDeleteBerpedaan untuk salinh melengkapi
ReplyDelete