Cinta Dalam Keheningan

Setiap yang berhati pasti pernah merasakan cinta. Itulah yang aku rasakan saat melihat dirimu menatapku. Walau sulit bagiku untuk menahan getar itu, namun aku tetap mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Meski rasanya hanya ada anak panah kasih yang berhasil menghujam jantung sebelum perang. Meski bulat matamu telah membuat jiwaku tak lagi bergumam. Meski rautmu membuatku tak bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Meski kau membuat aku tak mampu berkata-kata di depanmu. Meski kamu tak pernah sadar akan adanya perasaanku yang terbakar bara asmara yang tak sengaja kamu hempaskan padaku.

Ucapan "hai, apa kabar" darimu merupakan hal besar yang ku nantikan saat bertemu denganmu. Dengan itu, aku bisa mengolah kata agar tetap bisa berbincang denganmu, pemilik perhatianku. Beberapa saat bersama denganmu membuat aku melayang pergi entah kemana, aku tak bisa mencerna kata-katamu, yang bisa ku lakukan hanyalah memperhatikan dan mencoba mendekap bayangmu agar jelas di benakku. Kamu adalah rambu hijau yang ku tunggu di perjalanan hidupku. Aku hanya berharap saat hijau itu datang, aku mampu berlari mengejarmu. Berharap aku bisa sampai sebelum merah kembali menghiasi, yang membuatku menunggu lama atau harus balik kanan mencari jalan lain.

Setelah sekian lama kamu menganggapku tak lebih dari manusia biasa yang bahkan bukan figuran dalam kisahmu, bukannya berhenti rasaku, tapi malah semakin menggebu. Setiap pagiku adalah saat ku berpikir bagaimana cara untuk bertemu dan mengambil sedikit waktumu walau kamu tak pernah merasakan yang sama denganku. Setiap siangku berarti waktu untuk menunggu hadirmu walau hanya lewat di depanku dan mungkin tak memandang ke arahku, namun bisa melihatmu saja aku merasa bahagia. Setiap soreku menjadi jingga yang tak merekah karena pancarannya telah kau bawa entah kemana. Dan setiap malamku adalah puncak hasrat dalam anganku tentang memilikimu, iya, dirimu, alasanku menghabiskan waktu untuk melihat beranda media sosialmu, hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja dan tak ada jiwa yang berhasil merenggut hatimu.

Kamu adalah cahaya yang aku nantikan saat aku dirundung kegelapan. Kamu adalah tumpukan bait yang ingin kujadikan lirik untuk nyanyian hati disaat sunyi. Kamu adalah rangkaian kata yang ingin ku tuliskan di lembar kenangan. Namun lagi-lagi, rasaku tak mampu kuungkapkan, hanya bisa kupendam. Berharap angin malam mendengar bisik jiwaku dan rasaku meresap padamu. Aku hanya bisa berharap agar langit mendengar bahasa kalbuku dan segera menyampaikan padamu bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku selalu berharap dikabulkannya doa di sepanjang waktu, untuk memiliki kasihmu. Hanya itu yang bisa ku lakukan, karna aku tak punya nyali sedikitpun untuk menunjukan perasaanku. Aku tak punya keberanian untuk menarik perhatianmu lebih jauh. Aku tak punya kemampuan untuk mengajakmu lebih dekat, untuk menarikmu dari jalan yang tak bisa ku tembus, untuk masuk ke dalam catatan keseharianmu. Biarlah keheningan rasaku memeluk bayangmu dalam penantian semu.


Pagi itu, aku lihat dirimu berjalan dari kejauhan di arah berlawanan. Seperti biasa, hatiku tak bisa berdamai dan terus berontak dengan getaran tak menentu. Aku menunduk mengondisikan diriku sendiri agar tak terbawa perasaan karna hal yang mungkin sangat sepele, yaitu melihatmu. Setelah kuarahkan pandangan padamu, kulihat kamu tersenyum dan melambaikan tangan. Seketika waktuku seakan berhenti berdetak. Kamu berjalan ke arahku dengan mata berbinar, mata yang selama ini menjadi candu yang membuatku tak bisa membedakan fantasi dan kenyataan. Aku sudah membayangkan kamu memberikan senyum untukku dari dekat serta merasakan ragamu berada di sampingku. Sungguh perasaan yang tak terbayangkan sebelumnya. Semakin dekat kamu melangkah, semakin aku berdebar tak karuan. Hingga sampailah dirimu pada langkah-langkah terakhir di tempatku berdiri. Aku mencoba memejamkan mata sejenak, berpikir bahwa saat aku membuka mata, kamu telah sampai tepat di depanku. Tapi kenyataan berkata lain. Tubuhku seperti tersengat listrik saat membuka mata, yang kulihat bukan dirimu di hadapanku, melainkan ragamu yang sengaja melewatiku begitu saja. Tanpa terucap sepatah kata. 

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata senyum dan lambaian tangan itu tadi bukanlah untukku, tapi untuk seorang wanita yang berada di belakangku. Setelah berbincang singkat, mereka bergegas pergi. Tanpa ku sadari, air mataku sudah tak terbendung lagi. Seketika taman hatiku terbasahi oleh derasnya hujan yang datang tiba-tiba tanpa mendung. Badai yang menyentuh relung hati hingga menyengat tanda kehilangan, tepatnya kehilangan sebelum memiliki. Duniaku menjadi terporak-porandakan dengan fakta bahwa hatimu telah berlabuh pada hati yang lain. Fakta bahwa sebesar apapun aku menaruh harapan padamu, tak pernah membawaku bersanding di tempatmu berjalan. Fakta bahwa angin yang mengantar cintaku tak pernah sampai padamu. Dan kini, aku harus menerima jika hatiku hancur hingga akupun tak mampu mengumpulkan kepingannya. Harus aku terima jika mimpiku yang datang tanpa permisi, tiba-tiba lenyap begitu saja. 

Malam demi malamku hampa, cinta yang merekah tanpa pemiliknya tau, sekarang harus layu. Keheningan atas cinta yang menuntutku untuk menghapus bayangmu, menghentikan daya untuk mengejarmu, mengubur semua ilusi yang ku ciptakan sendiri sembari menepi, mengakui bahwa sajak untukmu telah patah, dipatahkan oleh luka saat melihat kenyataan. Dan kini aku hanya bisa mencintaimu tanpa bisa merasakan dicintai. Mungkin sudah saatnya aku membangun kembali hati yang telah mati. Aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa cinta memang tak harus memiliki. Dan kadang, ada saatnya cinta harus merelakan dia pergi. Pergi membawa kenangan yang menembus kertas dengan kekosongan. Kosongnya cinta dalam hatimu untuk tetap bisa ku tulis dengan harapan di jantung malam.


amz:019

Comments

  1. Perasaan itu ditunjukan dengan bukti, bukan diungkapkan dengan kata apalagi dipendam

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts